| |
 | Selamat Datang di Martin's Site | |
Keinginanku adalah membagi kasih, lewat sharing pengalaman hidup dan membaca pengalaman anda yang mengagumkan. Manusia baru yang membawa kehangatan, berarti dan berguna untuk orang lain dengan cara membagi telenta kepada orang lain dan jadilah rendah hati dan tulus hati dalam hukum utama cinta kasih. Saya juga ingin berbagi pengalaman dalam hal otomotif di www.bengkelgratis.com
|  | Mendengarkan romo Kuriis SJ bicara kita sepertinya dibawa ke situasi real, sesungguhnya. Beliau menceriterakan ketika mereka sama sama, khususnya para imam dari Belanda kalau berkumpul maka yang mereka lakukan adalah main kartu. Maka ketika melihat tempat peristirahatan terakhir para imam tua yang baru meninggal berkomentar... ini semua deretan imam imam dari Belanda, ada romo Lamers, romo Tom Jacobs, romo Ost (maaf saya tidak catat) yang baru bulan lalu meninggal di Kedangan Semarang lalu beliau ingat ini teman main kartu semua. Sayangnya tempatnya romo Lamers dan romo yang suka main kartu dibatasi romo Tom, kata romo Kuriis, romo Tom tidak suka main kartu....Setelah pemakaman suasana seperti peknik, biara SJ Girisonta menyiapkan makanan dan minuman serba lebgkap dan lebih. Ada sop ada nasi dos ada kopi ada teh.... maka seperti pekniklah.... setika selesai makan, seorang suster mengatakan...dari pengalaman maka sekarang lebih baik lebih daripada kurang. Waktu romo Tom Jacobs sampai kurang, saya pikir wong fans beliau memang banyak je... Nah kalau anda liat foto lain liatlah beberapa pastor tua ini. Pater J Casutt dari ATMI Mikael Solo ini sudah berusia 82 tahun, dan masih naik Honda Tiger untuk mengurbankan Ekaristi dan yang satu ini romo Kuriis SJ...79 tahun dengan motor bebek ini beliau kembali ke Solo Purbayan..... mana bisa romo provinsial SJ mengatur romo romo tua ini soal naik motor..... |
|  | Mas Tonny D Widiastono mengabarkan wafatnya Romo Lamers SJ. Kendati tidak terlalu kaget karena bukankah beliau sudah sepuh? Namun saya sempat kaget dan tersentuh ketika Romo Kurris SJ, menceriterakan penjalanan hidup sahabatnya ini. ”Romo Lamers lahir disebuah kota kecil di negeri Belanda, di lewati sungai besar. Pada sisi sisi sungai itu banyak pohon kersen berbuah merah sehingga ia sukan makan buah kersen itu. Maka tidak heran kedua pipinya merah seperti kersen. Semasa kecil romo Lamers sudah menjadi seorang anak yatim, karena ditinggal meninggal dunia sang ayah. Sebagai seorang janda, ibunya menyekolahkan anak tunggal ini si seminari sampai menjadi imam, dan tidak menyaksikan ketika beliau mengucapkan kau kekal sebagai seorang Jesuit. Setelah ibunya menyusul sang ayah, tinggallah romo Lamers seorang diri. Masa itu, mula ia datang ke Indonesia 55 tahun lalu, baru setelah 10-12 tahun baru mereka pulang ke negeri Belanda, namun menyedihkan.... ketika romo Lamers pulang ke Belanda tidak ada seorangpun yang menjemput, karena memang ia sebatang kara. Sebaliknya berbeda dengan kami, kami dipeluk di cium oleh om tante keponakan .... dan selanjutnya setelah tiba kembali di Indoensia, kami menerima banyak banyak hadiah,....sebaliknya romo Lamers tidak menerima kiriman apa apa .... kejadian kejadian seperti itu membuat romo Lamers tidak suka menonjolkan diri, tidak banyak bicara tetapi herannya ia punya banyak teman.... dan hari ini saya mendapatkan bukti itu. Kalau saja tidak dibatasi kehadiran umat disini, mungkin lebih dari 5 bus akan datang dari Jakarta, hal itu menunjukan beliau banyak disenangi oleh umat... Beliau pernah di Katedral Jakarta, Tangjung Priuk, Wonosari, Weleri, Kota Baru Yogyakarta, Duren Sawit.....demikian sekitas yang saya tagkap dari ungkapan seorang sahabatnya, pastor Kurris SJ. .... banyak komentar di sana sini, seorang umat Santa Anna mengatakan romo melayani umat dan mencintai umat, sehingga ketika romo pindah ia selalu mengatakan umat yang ditinggalkan adalah umat umat yanf terbaik yang ditemuinya. Anak anak suka sekali kepada romo Lamers, mendekat dan menyapa adalah kehalangatkan yang beliau bagi bagikan. Banyaknya umat yang datang dari keuskupan Jakarta dan berbagai pelosok keuskupan Agung Semarang menunjukan, romo Lamars seorang imam ”sungguhan” yang pndah dari dari satu tempat ke tempat lainnya. Beliau membawa kesejukan, saya saksikan ketika beliau mejabat sebagai pejabat pastor paroki Kotabaru Yogyakarta......Selamat kembali ke rumah Bapa Romo Lamers SJ.
|
Tanggal 26 Juli 2008, Yosua Teiseran lahir. Adik Chris ini lahir mudah, ketika ibunya merasa sakit, lalu dibawa ke rumah sakit Elisabeth sekita jam 05:30 dan jam 0:7 lewat sedikit Yosua sudah lahir. Ini merupakan kelahiran cucu yang ke empat, semua serba capat. Lebih dari dua tahun lalu, Chris juga lahir sebulan lebih dahulu dari Rafel, dan sekarang Yosua lahir sebulan lebih dahulu dari Cella. Kalau dulu rame rame di rumah karena suatu saat ada dua bayi menangis bersamaan, sekarang yang satu menangis di Jawa lainnya di Timor. Suatu pengalaman yang dari kami sebagai orang tua yang sekarang diaminin anak anak adalah, jangan menggendong anak sampai hari ke tujuh, biarkan dia menangis ......ternyata cara itu membuat kedua orang tuanya bisa istirahat.....syukurlah...anak anak mau belajar dari orang tua... Yosua.3gp (1.7 MB)
|  | Tanggal 21 Agustus 2008, isteriku ke Timor lewat Jakarta setelah ikut merayakan ulang tahun ke 4 seorang cucu di Jakarta. Dengan Kamandanu saya pulang sendirian pada tanggal 17 Agustus 2008. Supaya bisa istirahat pada hari libur 18 Agustus. Sejak pertengahan Agustus kami berdua selalu was was setiap hari karena takut kehadirannya cucu mendahului kedatangan poponya ke Timor dan janji ikut ulta cucu di Jakarta. Agar mendampingi putri pertama (Maria Goretty Teiseran, Atik) anak ke tiga kami melahirkan di Kefamenanu Timor.
Bagitu bertemu, ibunya heran karena Atik menjadi gemuk, berat badannya menjadi 78 kg. Karena kelahiran pertama, Rafel tanpa kendala apa apa maka Atik merasa kedua ini juga lebih mudah karena bukankah melahirkan anak kedua lebih lancar? Melahirkan anak pertama di Semarang tanpa kehadiran suami memang lancar karena setiap hari berjalan pagi atau sore dengan saya, tidak demikian sekarang. Bangun pagi makannya terus menerus dan tidak pernah jalan- jalan. Atik beralasan setiap hari sudah cuci baju dan setelah itu duduk menunggi orang belanja di tokonya. Menurut perhitungan hari, mestinya sudah tiba saatnya untuk melahirkan, maka dibawalah Atik ke Atambua, kota kabupaten lain yang dianggap memiliki fasilitas lebih baik dan kebetulan pula rumah sakit itu milik salah satu omnya, dr Eddy Usboko. Setelah periksa ke dokter ternyata jalan bayi masih belum lemas dan perut Atik belum turun. Bidan tua di kota itu mengatakan bahwa Atik mesti gerak, maka mulailah kerja keras Atik untuk jalan alias berolah raga pagi dan sore. Sampai dr mengatakan ini bukan cara yang benar, mau menyelesaikan persoalan hanya dalam tempo yang singkat. Selang satu hari diperiksa ternyata jalan bayi sudah membuka 2, maka diputuskan dibawa ke rumah sakit saja, dengan pertimbangan agar di beri obat atau suntukan pacu. Dokter sendiri belum mau memberikan suntikan karena belum sampai membuka 4, sedangkan Atik tidak mau sampai di operasi caesar. Sebagai ibu, isteri saya menjadi orang yang paling kawatir tentang keselamatan anaknya. Berusaha meyakinkan adiknya, agar bisa memanggil dokter kandungan agar memeriksa lagi dan mendapatkan suntikan. Mungkin karena sakit, Atik seperti memerintah dr yang punya RS untuk segera panggil dokter kandungan. Akhirnya memang datang juga, dan setelah di periksa dalam, celakanya air katuba pecah.......ini suasana yang sangat menegangkan isteri saya, karena tidak boleh lebih dari 8 jam. Ia hanya bisa berdoa agar tidak terjadi apa apa. Setelah itu dokter memberi infus yang didalamnya sudah ada obat pemacu, dan minta suster agar memanggil dia 4 jam lagi. Selama saat penantian, kandungan Atik mulai aktif dan sering sakit. Suatu saat ia minta dr Eddy agar segera panggil dokter kandungan.
Proses persalinan yang dimulai dari jam 8 pagi belum nampak akan berakhir. Atik sudah mengalami kesakitan yang luar biasa. Suaminya Oktavianus selalu berada di sisinya berusaha membantu, ia kelihatannya sangat ketakutan. Ketika Atik berteriak mengerang kesakitan dan dr Eddy menutup mulut Atik agar jangan membuang tenaga untuk berteriak, suaminya juga ikut tutup mulutnya sendiri. Kesakitan yang luar biasa itu membuat Atik sampai menggigit tiang besi infus.....Atik bertekat tidak mau diopersasi Akhirnya pesalinan selesai pada jam 11 malam .........saya pikir saat melahirkan anak suami harus ada di sisi isteri agar mengetahui betapa menderitanya isteri ketika melahirkan orang anak. ........barusan saya telepon dan bertanya kepada Atik, waktu melahirkan sakit ya sayang... jawabnya setelah melahirkan tidak terasa lagi papi....Semua ibu memang luar biasa perkasanya....
|
|  | (Dimuat di MP atas ijin Bp Antonius Kahono) Anne Satya Adhika (12) mungkin sudah bisa melihat wajah Tuhan. Ia sudah memperoleh apa yang pernah dijanjikan oleh Tuhan Yesus yang datang dua kali dalam mimpinya. Putri kesayangan pasangan suami isteri Antonius Yosef Sri Kahono (43) dan Yohana Fransisca Emy Kusindriati (38) dipanggil Tuhan pada 26 September 2007, setelah melewati pergulatan panjang dari operasi tumor 3 April 2007.
Putri yang manis siswa SD Kanisius Demangan Baru Yogyakarta, beberapa kali mendapatkan ranking di sekolahnya, terutama ketika Anne belajar di kelas 1 sampai dengan 3. Di kelas 6, seperti anak-anak lain yang juga ingin mempersiapkan ujian, maka Anne mengikuti les-les supaya memperoleh nilai bagus dalam ujian dan bisa melanjutkan ke sekolah favorit. “Menjelang ujian, tanpa ada gejala sakit sebelumnya tubuh Anne tampak mengurus namun perutnya agak besar. Setelah dicek di RS Panti Rapih ternyata ada tumor di bagian perut,” hal ini membuat orang tua ini panik.
Singkat ceritera, dilakukan operasi untuk mengambil tumor tersebut. Secara mengejutkan, rekam jantung dan berbagai pemeriksaan sebelum operasi memungkinkan bagi terlaksananya operasi. Padahal dua hari sebelumnya, rekam jantung Anne sangat jelek. Begitu senangnya Anne berjumpa Tuhan sampai dia bisa menghibur sang ibu. “Sebelum masuk kamar operasi, Anne sempat bilang pada saya: Ibu, wajahnya jangan begitu. Senyum to….da…da….” kenang Ibu Emy.
Setelah operasi Anne diharuskan mengikuti kemoterapi. Saat-saat mendampingi kemoterapi Anne, Bapak Kahono dan Ibu Emy merasakan beban yang sangat berat. “Setiap bulan, kurang lebih 4 sampai 5 hari kami harus mendampingi Anne yang pasti merasakan sakit, pusing berat, mual, muntah, dan menggigil sampai tempat tidurnya bergoyang hebat. Setelah itu, di rumah kadang-kadang Anne susah minum obat.”
Namun Anne seakan ingin memakai waktu-waktu terakhirnya untuk menyenangkan semua orang. Ia tidak mau orang tuanya sedih, “Bapak jangan gitu, Bapak jangan sedih ya,” ucapnya setiap kali sang ayah nyaris menitikkan air mata. Anne juga sempat membelikan kado ulang tahun bagi temannya di sela kesakitan paska kemoterapi keempat. Menjelang kemoterapi terakhir, ia sempat momong Gisela bermain di sebuah mall di Yogyakarta. Waktu itu Anne punya keinginan yang tidak bisa ditolak, ia ingin mengajak adiknya untuk bermain disebuah mall. Ia juga berjuang menyiapkan sepucuk doa “Malaikat Tuhan” Tiba-tiba Anne minta duduk, lalu memandang ke arah sudut ruangan. Seperti ketakutan ia menunjuk ke sudut ruangan dan berkata dengan nada yang terpatah-patah, “Ibuuu… ka..ta Tuu..han Yesusss, o..rang yang ma…mau me…ning..gal itu su..su..lit bernafas…..bapaaaak…..ibuuu, aku ta..kutt..” Anne lalu meminta agar kedua tangannya dipegang dengan erat oleh kedua orangtuanya. Ketika itu Anne juga menanyakan saudara-saudaranya kepada ibunya, “Bu…mana budhe dan pak dhe, mana mbak vita, mbak Nuke….kok sepi to” Kenang ibu Emy. Bahkan ketika itu Anne juga menanyakan adiknya dan keponakannya, katanya “…mana Marsa, mana Gisela…Gisela mbak Anne mau meninggal…” kenang pak kahono sambil menitikkan air mata. Sore itu juga pada pukul 18.00, Anne menerima sakramen minyak suci. Ketika upacara pemberkatan minyak suci berlangsung Anne bisa mengikutinya dengan khidmat, dan setelah selesai kepada Romo ia masih berucap, “Terima kasih Romo. Doakan saya ya Romo.” Lalu setelah itu dilanjutkan dengan doa roasio oleh warga lingkungan dan Anne pun juga bisa mengikuti dengan tenang.
Sekali lagi pak Kahono membimbing Anne untuk berdoa dan Anne pun bisa mngikuti doa walaupun dengan suara yang pelan dan terpatah-patah. “Ya Tu…han, Ampuni hamba-Mu Anne. Pe….ganglah tangan Anne ke dalam pangkuan-Mu… tuntunlah hamba-Mu kedalam surga” Dan pada waktu itu, kedua orangtuanya sempat minta maaf juga. “Anne, bapak ibu minta maaf ya, bapak dan ibu banyak dosa dan salah pada Anne.” Anne pun menjawab, “Aku ituuu sudah me..maaf..kan.” Saat itu juga Anne sempat minta maaf kepada bapak dan ibunya. “Anne juga ya bu minta maaf..” Kahono sambil menangis menjawab, “Anne gak punya salah. Bapak dan ibu sudah memaafkan”. Setelah itu Anne memanggil Bapak Ibu-nya sekali lagi dan memegang dengan kuat tangan orangtua itu.
“Selamat jalan anakku, selamat jalan Anne…..banyak kenangan indah bersamamu yang tidak akan aku lupakan selamanya, engkau begitu baik, bersemangat dan bahkan mau maaf memaafkan menjelang engkau pergi. Sekali lagi maafkan segala kesalahan bapak ibu nak….damai dan bahagia di Surga Amin” begitu kata pak Kahono Lima menit sebelum Anne pergi, ”Anne...Anne..ma..maafkan ba..bapak ibu ya....” ketika itu Anne pun menjawab dengan suara lirih ”aa..aaaku tuh su..su..sudah memaafkan....ibuuu, bapak ma..maafkan Anne ya....” dan kami pun hanya bisa mengangguk, karena air mata kami semakin deras keluar begitu saja.
Perayaan Ekaristi Peringatan 1 tahun anak kami, hari/Tanggal : Selasa, 9 September 2008 Pukul : 17.00 WIB. Tempat : Rumah kami Jl. Gejayan, Santren Gang Menur No. 5C Yogyakarta Kisah selengkapnya ada di http://anne1995.wordpress.com
|
|  | Setelah melewati B ke enam manusia cenderung pasrah, tidak berdaya kemungkinan terjadi kemunduran kesadaran dan emosi.... lalu kita semua menjawab .......AMIN.........Bablas dalam bahasa jawa artinya sudah lewat, selesai juga bisa tamat.... |
Setelah usiaku melewati 60 tahun baru saya semakin yakin akan kebenaran penyakit 7B yang muncul ketika usia 55 tahun. Sayangnya, kendati penyakit itu menular dan menggeroti fisik dan mental sang manula, tetapi banyak dari kami tidak menyadari. Jalan terus di jalan yang salah. Maka jangan heran banyak orang muda heran dan tidak bisa mengerti kelakuan para manula. - B pertama adalah Botak. Jangan tertawa dulu, atau kalau mau tertawa, tertawalah dulu sampai terbahak bahak. Saya juga sekarang tertawa, untung sendiiran, kalau tidak bisa dianggal gila, wong tertawa sendirian, ini juga penyakit manula lho, tertawa sendiri. Ha ha ha. Botak itu ada dua, pertama fisik dan kedua menta. Kalau fisik apa boleh buat, entah itu hadiah keturunan entak belajar terlalu banyak untuk menjadi profesor, karena itu sudah alamiah. Nah yang repot yang secara mental kita botak. Botak jenis ini biasanya diakibatkan oleh stress, maka kalau sudah manula jangan cari stress. Ada dua hal penting yang menyebabkan stress berat sampai terkensing kencing. Pertama menghamili bukan isterinya sendiri, coba bayangin seberat apak stressnya. Kedua sudah menumpang di rumah mertua, menikamati PMI, sertifikat mertua di gadaikan di bank, dan sekarang karena tidak bisa mengangsur rumah mau di sita....waoooooooooo Botak lain, tampak secara fisik, coba perhatikan kepala anda, kalau bagian belakang agak botak, rambutnya menipis, itu tandanya hormon testeron anda tinggi akibatnya napsu sex anda besar..........
- B kedua Budheg. Budheg dalam bahasa jawa artinya agak tuli, tetapi juga berkelakuan tuli. Sering kali saya memiringkan telapak tanganku mendekatkan pada daun telingaku. Maksudnya agar bisa mendengar dengan baik, apakah dengan menggunakan selembar kertas besar akan memperbaiki pendengaranku, mestinya tidak karena karena usia pendengarkan ku mulai menurun secara fisik. Sayangnya para manula di usia tua dihinggapi penyakit mental B kedua. Kami cenderung bicara terlalu banyak, karena sudah tuli dan tidak bisa mendengarkan dengan baik secara mental. Kami bicara lebih banyak dari mendengarkan, sehingga membuat anak cucu bosan dan menghindar bicara dengan kami, mereka menghindar karena sejak mereka lahir hingga sekarang kami hanya mengulang ulang kata dan ceriteranya........... jelei banget katanya. Kami sepertinya sudah berubah. Telinga tinggal satu dan mulut bertambah menjadi dua, bicara terlalu banyak.....
- B ketiga adalah Blawur. Artinya penglihatan kami semakin tidak jelas. Seperti saya saat ini, memakai 3 kaca mata plus. Plus 1 untuk nonton TV, plus dua untuk melihat ke komputer dan plus 3 untuk membaca. Secara fisik apa mau dikata, usia berjalan lurus, banyak onderdil di tubuh mulai kedaluwarsa. Tetapi skill kami tinggi,terlatih selama puluhan tahun maka kami dengan mudah memasukan benang ke lubang jarum. Yang repot kami tidak mengajari bahwa kami sudah manula. Mata kami blawur dan suka memandang dan menggoda yang muda muda. Mestinya ke kaca dan melihat kondisi fisik kita. Maka jangan heran orang muda mengatakan, "tidak tahu diri"
- B keempat adalah Bodoh. Nyata sekarang, soal ilmu pengetahuan kami tertinggal oleh kaum muda yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Coba bicara soal internet, brossing, ruang angkasa dan sebagainya, kami tidak banyak tahu lagi, tangan dan otak kami sepertinya tidak gatuk/mix sama komputer. Sayangnya secara mental kami tidak menyadari kebodohan itu, sehingga suka mengatakan, membanggakan masa lalu kami dengan mengatakan "dulu saya atau kalau tidak ada saya" Coba perhatikan ketika kami makan, ada sisa nasi yang menempel di sekitar mulut, itu saja kami juga tidak menyadari dan mengontronya, sepertinya kami kehilangan kontrol diri....
- B ke lima adalah Buyutan. Secara fisik dan mental kami sudah tidak berdaya, kapan matipun kami tidak menyadari lagi. Namun ada 2 peristiwa yang saya catat dalam hidupku. Pada tahun delapan puluhan satiap tahu saya pulang Timor, salah satu aktifitasku adalah mengunjungi orang tua berusia 70 puluhan tahun, semua sudah meninggal dunia. Dariantaranya ada dua yang memberikan pelajaran berharga kepada saya. Ia seorang Uskup yang meningga dunia pada usia 86 tahun dan seorang Bapak yang meninggal pada usia 96 tahun. Yang pertama banyak mendengar, membaca, menulis, bicara kepada umat beliau aktif secara mental namun kurang dalam hal fisik. Ketika beliau sakit keras di RKZ Surabaya saya mengunjungi, dan pada saat mendengar bahwa saya dari Timor, ekspresi beliau berusaha bicara tetapi fisiknya tidak mampu lagi digerekan oleh otaknya. Sedangkan kedua, bapak ini, ketika beberapa kali saya datang mengunjungi beliau ia tidak kenal saya lagi. Cucunya mengatakan engkong sering kencing di depan kami, beliau sudah pikun. Semasa hidupnya, puluhan tahun ia berjalan sejauh 11 km pp ke perkebunan kelapanya. Ia sehat sekali, tetapi jarang membaca sehingga otaknya tidak banyak ada stimulus. Sehingga meninggalnya seperti mobil yang jalan dan kehabisan bensin. Di manakah diriku hendak kutempatkan? Saya mau balans, olah raga teratur dan aktifitas otak tidak pernah berhenti, dan sungguh menyadari akan hukum kekekalan, kita memanen apa yang kita tanam.
- B ke enam adalah Beseran. Bagi saya ini sudah ketentuan dari Allah. Kita tidak bisa memilih. Apakah dalammkeadaaan seperti ini kita masih mampu bersyukur dan berterima kasih? Saya belum bisa meramal tentang diriku.......yang bisa kulakukan adaah setiap hari berdoa dan membaca Injil, kitab suciku.
- B terakhir apa? Kita sambung besok pagi.......sabar menunggu lah
Menyambung rangkaian ulang tahunku yang 60, tiga masa yang kumaksudkan. Pertama Pandangan hidup, secara mental dan fisik setiap orang mengalami hal ini entah itu perempuan atau apalagi dia lelaki. Sampai usia dua puluh tahun setiap orang mengalami pandangan hidup. Ketika itu kita bersekolah, tidak banyak pikir yang susah susah karena semua biaya hidup di cukupin orang tua, jadi memandang saja sudah hidup. Secara fisikpun dengan memandang mandang saja sudah hidup. Kedua adalah pegangan hidup dari 20 sampai usia 40 tahun. Dalam bekerja kita sudah mesti pegang tidak pindah pindah lagi. Kalau ingin punya rumah mestinya pada usia sebelum ini karena usia ini masih banyak yang bisa dipegang tidak banyak yang terlepas. Biaya masih rendah untuk sekolah anak, belum waktunya dirongrong penyakit. Kalau tidak hadir pesta juga tidak apa apa, sehingga tidak perlu keluar uang untuk sumbangan. Tidak seperti usia pandangan hidup maka diusia ini dipegang dulu baru bisa hidup. Ketiga adalah perjuangan hidup antara usia 40 sampai 55 tahun. Sungguh ini perjuangan hidup. Biaya kuliah masuk sekolah semuanya butuh biaya besar, sering kali gaji tidak cukup dan harus berjuang mencari tambahan. Acara kondangan rasanya berat untuk tidak hadir, maka perlu uang, entah emplop entah putih entah angpao. Rasanya berat bila pada usia ini orang baru mau membangun rumah....o terlampau berat. Kalau tidak olah raga, makan makanan bergisi dan menjaga kesehatan pada usia ini bisa "setengah mati" maka untuk hidup perlu perjuangan keras. Tanpa perjuangan hidup semua seperti tidak berdaya. Menangisi nasib ibarat dunia akan kiamat, karena tidak bisa hidup hidup.... Setelah ini kita dihinggapi penyakit 7 B....... bersambung ...
|  | Ayah Saya Keras, Ibu Sangat Lembut
Karakter seorang anak biasanya dipengaruhi oleh sifat dari kedua orangtuanya. Tapi bisa juga hanya menurun dari salah satu di antara keduanya itu. Beruntung saya mewariasi gabungan dari kedua orangtua saya. Bapak saya, almarhum Hubertus Sukarto Pujosumarto, orangnya keras dalam pendirian. Dia selalu bertahan pada prinsip hidup yang sudah diyakini. Maka dia tidak segan untuk mengajukan protes kalau ada yang tidak benar. Karena itu bapak juga menerapkan pola disiplin yang keras, baik pada dirinya sendiri maupun kepada anak-anaknya. Sifat bapak berbalik 180 derajat disbanding ibu. Ibu saya, Maria Agnes Sukarti Pujosumarto, adalah seorang ibu yang lemah lembut, seorang ibu rumah tangga yang membesarkan kami 8 bersaudara. Maka saya menilai kasih bapak dan kasih ibu menyatu menjadi kasih yang sejati.
Bapak asal Solo dan ibu asal Yogya. Setelah menyelesaikan pendidikan di Mendut, Muntilan, ibu melanjutkan ke MILO. Sedang bapak setelah menamatkan pendidikan di Muntilan melanjutkan ke sekolah perawat. Jadi mulai dari pendidikan di Muntilan Mendut sampai ke Yogyakarta, bapak dan ibu belum saling kenal. Nah ketika bapak bekerja di rumah sakit di Boro, Kulonprogo, baru bertemu ibu yang juga bekerja di tempat yang sama. Keduanya lalu saling kenal. Perkenalan itu lalu diteruskan dengan saling menerimakan sakramen perkawinan di Gereja Bintaran, Yogyakarta. Setelah berumahtangga keduanya kembali bekerja di rumah sakit Boro. Dan disanalah lahir kakak saya romo Ismartono, SJ.
Pandangan bapak yang jauh ke depan menyebabkan dia membuat keputusan untuk pindah ke kota agar anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Khususnya mendapatkan pendidikan dari sekolah katolik. Karena bapak meyakini hanya di sekolah katolik anak anaknya bisa mendapatkan dasar iman katolik yang kokoh. Saya rasa inilah habitus yang saya terima dari kedua orang tua kami. Saya yakini inilah yang menjadi dasar panggilan imamat saya. Kalau kita hanya menjalani kehidupan duniawi semata, suatu saat kita menjadi bosan. Akan tetapi bila pada setiap kejadian duniawi ini, kita maknai dengan iman, rasanya hidup ini menjadi kaya dan indah. Pendidikan di Muntilan dan Mendut pasti meninggalkan iman yang mendalam bagi orang tua kami. Pernah suatu ketika saya bertanya kepada ibu, mengapa ibu menjadi katolik. Ibu mengatakan karena sungguh terharu ketika mendengar kisah sengsara Kristus didaraskan, apalagi sampai wafar di kayu salib. Nah, kehidupan iman yang kuat yang didapat di Muntilan Mendut ini, lalu dibawa ke kehidupan dalam rumah kami. Misalnya, bapak dan ibu selalu mengajak kami berdoa bersama, katika makan maupun malam menjelang tidur. Ketika makan siang usai, bapak mengumpulkan kami lalu membacakan buku Rohani yang dulu sangat terkenal, Napak Tilas Podo Dalem Sang Kristus (Mengikuti Jejak Kristus), karangan Thomas Akades. Bacaan-bacaan itu yang memberikan semangat dalam keluarga kani. Saya yakini semua yang saya terima di masa kecil itu membentuk karakter saya, yang intinya adalah semangat pengosongan diri, semangat keprihatinan dan semangat berbagi.
Bisa dibayangkan, keluarga kami adalah keluarga sederhana, ekonomi cukup untuk bertahan hidup bersama 8 anak. Bapak bekerja sebagai manteri rumah sakit pemerintah sedang ibu di rumah untuk merawat anak-anak. Sampai tahun 1965 ibu masih melahirkan anaknya yang bungsu, padahal ketika itu sudah berusia 45 tahun.
Ulat pun diperhatikan Allah Perjalanan hidup keluarga orangtua saya tidaklah mulus dan serba berkecukupan. Pernah terjadi, pada tahun 50-an orang tidak mudah mendapatkan pekerjaan. Masalah itulah yang menyebabkan hati bapak selalu diliputi perasaan gelisah dan was-was. Bagaimana tidak! Bila matahari mulai terbit di ufuk timur dan ketika ayam jago mulai berkokok, tanda hari siang mulai lagi. Padahal hari itu ia harus makan dan memberi makan kepada anak-anaknya. Bila mau makan, haruslah bekerja, akan tetapi tidak ada pekerjaan yang bisa diandalkan. Lalu tibalah musim panas penyebab daun-daun kering dan rontok berjatuhan.
Suatu hari bapak sedang berjalan-jalan di kebun, berdoa, meditasi dan kontemplasi. Ia melihat di halaman rumah banyak dedauanan kering berguguran. Bapak lalu memanggil saya dan mengatakan: “Lihatlah, nak, ulat yang sedang bersembunyi di daun itu. Meski daun-daun lain kering, tidaklah daun itu. Si ulat tetap saja dapat makan, Dan sekarang telah menjadi kepompong. Saatnya akan tiba nanti kepompong akan menjadi kupu lalu terbang ke mana pun ia suka. Bila si ulat saja begitu diperhatikan oleh Allah, apalagi kita ini yang menjadi anak-anak Allah. Peristiwa itulah, nak, yang menyebabkan aku tetap percaya dan selalu berharap pada penyelenggaraan ilahi. Itulah pelajaran hidup beriman yang ditanamkan bapak kepada saya. Percaya dan berharap kepada penyelenggaraan ilahi! Begitu juga ibu. Saya masih ingat saat dia sedang sedang menggendong adik-adik saya. Kadang diajak melihat-lihat taman, disenandungkan nyanyian, agar hati gembira. Ada tembang Jawa yang masih selalu saya ingat dan selalu disenandungkan ibu:
Kupu kuwi dakencupe Mung abure angewuhake Ngalor ngidul ngetan bali ngulon Mrana-mrene mung saparan-paran Sopo bisa ngencupake Mentas mencok cegrok banjur mabur pleper. ( Mau kutangkap kupu itu, namun terbangnya merepotkan, ke utara, ke selatan, ke timur, balik ke barat Ke sana ke mari ke mana pun. Siapa dapat menangkap? Baru saja hinggap, lalu terbang lagi) Dengan mendengar tembang itu yang digendhong mengantuk, lalu tertidur.
Ada sebuah peristiwa yang tidak mungkin saya lupakan, yakni saat-saat terakhir menjelang bapak wafat. Pada waktu itu berkali-kali bapak minta pada ibu agar ibu duduk di hadapannya. Lalu terjadi dialog singkat yang sangat mengesankan. ”Bu, mbok mréné ta, lenggah nang cedhakku!” Jawab ibu: ”Ngapa ta, Pak, awaké dhéwé wis tuwa ngéné, kok!” Kata bapak lagi: ”Wis ya bèn, réné, ta Bu, aku seneng nyawang kowé!” (Bu, duduklah dekat padaku sini!” ”Kenapa Pak, bukankah kita sudah lanjut usia begini!” ”Biarlah, duduklah dekat ke sini di hadapanku, Bu, aku bahagia memandangmu!”) Peristiwa saling memandang yang membahagiakan! Inilah peristiwa kontemplasi. Kata tidak lagi mampu merumuskan kekayaan kasih. Kasih tetap hidup dan berkembang dalam keheningan abadi. Ah, kuthilang perkutut, cah Muntilan karo cah Mendut. Begitu kami mengenang peristiwa itu. Peritiwa-peristiwa tadi sungguh mempengaruhi jalan hidup imamat saya. Bahwa dalam situasi sesulit apapun selalu ada penyenggaraan Illahi. Nah setelah kami dewasa kami menyadari bapak itu memiliki kasih yang perkasa dan ibu kasih yang lembut. Pada akhrinya beliau berdua saling melengkapi. Maka kami anak-anaknya bisa merima kasih yang utuh. Kasih yang kuat pada prinsip, karena mereka mencintai anak anak.
Menjadi Uskup Hari itu, Minggu Pantekosta 11 Mei 2008, saya lagi tidur siang di Roncali Salatiga. Sejak pagi saya mendampingi para bruder dan suster, dalam rangka memperingati 40 tahun Roncali Salatiga. Pada jam 14:32 saya menerima telepon dari Mgr Nunsius Leopoldo Girelli. Intinya beliau mengatakan, ingin memberitahukan kepada saya berita yang diterima dari Takhta Suci. Paus Benediktus XIII telah menunjuk saya sebagai uskup Bandung. Jawaban kesanggupan saya ditunggu. Saya berpikir-pikir, lalu berdoa. Saya sempat berpikir, ini sungguhan atau tidak, atau jangan-jangan saya sedang bermimpi. Kemudian saya mandi dan pergi berdoa di kapel. Saya renungkan seluruh perjalanan panggilan imamatku, dan saya pikir, tidak ada hal yang menghalangi saya sehingga saya menolak penunjukan Tahta Suci ini. Saya masih tenang saja dan berusaha meneruskan pertemuan dengan para Bruder dan Suster. Nunsius berpesan kalau memberitahukan setelah jam 07. Besoknya saya sampai pada keputusan dan keyakinan saya, bahwa peristiwa ini adalah peristiwa Pantekosta.
Setelah sarapan saya menghubungi Nunsius dan mengatakan saya bersedia. Lalu saya diminta untuk diam sampai ada pengumuman resmi. Saya diminta segera menulis kesediaan saya sebagai uskup kepada Bapak Suci. Saya tulis singkat saja dan besoknya sudah di terima Nunsius. Tetapi saya diberitahu, kok suratnya pendek sekali. Lalu saya tulis lagi lebih panjang yang isinya tentang panggilan hidup saya sebagai imam. Sebagai uskup Bandung saya memilih motto Tuc in Altum. Artinya masuk ke tempat lebih dalam. Saya merasa kiprah saya selama ini mendapat banyak dukungan. Antara lain adanya surat edaran dari komisi imam yang mengajak gerakan doa sedunia, untuk pengudusan imam dengan cara berdoa, ekaristi kudus, adorasi dan berbagi. Jejaring doa internet of prayers di Multiply yang baru saya mulai, adorasi harian dan penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus serta kampanye berbagi 5 roti dan 2 ekor ikan. Semua itu sejalan dengan edaran komisi kepausan untuk imam.
Apa yang akan saya lakukan di keuskupan Bandung nanti? Biarlah ada dinamika tersendiri dari umat keuskupan Bandung yang menjadi ciri khas dan menjadi kebanggaan bagi umat Katolik di keuskupan Bandung. Kepada Romo Harimanto OSC sudah saya minta untuk membuat lambang keuskupan. Yah siapakah kita ini, biar Tuhanlah yang menentukan! (Diceritakan kepada Martin T. Teiseran, ditulis ulang oleh Budi Sardjono) |
 Ini yang kumaksudkan dengan hukum alam. Bahwa umur seperti garis lurus menuju ke satu arah. Tidak ada yang mampu menyetop kecuali oleh Allah Yang Mahakuasa. Tidak ada kesempatan untuk minta cuti agar umur jangan ditambahkan dahulu. Sehingga suatu saat saya akan muncul lebih muda sedangkan orang lain sudah lebih tua dari saya. Bahwa karier seperti parabola, ibarat matahari ada terbit ada terbenamnya. Kalau umur seseorang bisa mencapai 80 tahun maka puncak kariernya bisa terjadi pada usia 50 tahun (umumnya manusia), maka ketika melewati usia 50 tahun bersiaplah untuk turun dan kembali seperti dulu lagi. Ketika saya berusia 52 tahun saya dijadikan General Manajer, hanya bertahan 6 bulan karena saya menolaknya. Yang memberi jabatan mengatakan "Pak Martin orangnya lucu, diberi jabatan tinggi malah menolaknya" Apa boleh buat karena saya mungkin salah, tetapi itulah opsesi hidup saya, matahariku mulai terbenam untuk memegang sebuah kuasa. Ku bayangkan Pak Harto presiden kita, beliau turun dari jabatan menjelang usia 70 tahun. Banyak musibah menimpah keluarganya setelah itu, ketika beliau muncul dan senyum banyak pihak menuntut agar beliau di adili........sungguh sakit rasanya (kalau itu aku) .... Kalau jabatanku tinggi, semakin tidak berdaya aku ini. Fasilitas semakin wah, mobil kelasnya paling tinggi... kemana mana ada sopir, membawa tas sopir, membuka pintu sopir bahkan untuk menarik kursi untuk dudukpun aku tidak kuat lagi. Ah sungguh kasihan hidup ini..... Padahal setelah tidak sebagai GM, saya kemana mana bisa menumpang Marcedez Benz, kadang ganti ganti merk lain. Ada sopir bahkan dilengkapi dengan konjak, kalau bepergian banyak teman ngobrol ah indahnya hidup ini......... Hukum ketiga adalah, berusaha untuk mencapai kematangan emosional, arahnya ke atas keharibaan Yang Mahakuasa. Berlatih untuk menggunakan 4 anugerah Allah. Cermin, Hati, Bolam lampu dan Batu. Dengan cermin saya melihat diriku dan menyadari diriku. Dengan hati, saya melihat segala yang terjdi dengan hati nuraniku, melakukan pendekatan dengan hati, pikiran dan terakhir baru bicara atau tindakan. Dengan bolam lampu saya berimaginasi tentang hidup ini, kalau aku masuk neraka bagaimana rasanya ......... dan terakhir adalah Kehendak bebas.....tidak seorangpun yang dapat merubah aku kalau bukan karena aku memang mau berubah... dan aku bertanggung ajwab atas pilihan pilihan dalam hidupku Itulah 3 hukum alam ....
|  | 60 tahun usia yang kutunggu dan kusyukuri, Allah memberikan banyak karunia kepada saya. Sebagian besar hukum alam sudah kulewati, 3 masa telah kulewati sampai usia 55 tahun, sekarang rasanya penyakit 7 B juga terlewati, semoga Tuhan meberikan penerangan bagi jiwaku agar perjalanan ke rumah Bapa menjadi jelas…….terima kasih Malaekat Pelindungku, Santo Tarsisius, Santo Martin de Porres, Santa Maria Goretty, Papa Mama, Isteriku dan semua ana serta cucu……..dan Anda terkasih………..
Hari ini teman teman menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya, tentu saya senang karena perhatian dan semangat solidaritas tinggi sesama ATMI, Multiply, bengkelgratis.com, st-tarsisius.blogspot.com dan dari siapapun. 60 tahun usiaku cepat berlalu, demikian pula 40 tahun ATMI St Mikael Solo dan 30 tahun bergabung di PT Nasmoco. Waktu telah merubah fisik kita, tetapi rasanya semangat kita masih tetap sama. Semangat disiplin, rendah hati, jujur, rajin, integritas diri dan sebagainya pasti masih tetap menjadi kebanggaan kita. Seorang teman mengatakan kalau kita merasakan waktu demikian cepatnya berlalu artinya kehidupan kita diliputi kebahagiaan, saya bersyukur atas karunia itu. Puji Tuhan.
Pagi tadi saya bangun pagi seperti biasanya, naik dan turun bukit selama 30 menit dan membuka email membaca beberapa email dari teman teman. Ketika dikamar mandi saya merenungkan kembali jalan hidup ini. Di depan kaca saya melihat fisikku. Kepalaku mulai jarang ditumbuhi ramput, dibawah kelopak mata ada segaris daging menunjukan ketuaanku. Alisku ada satu dua bulu yang lebih panjang dan beberapa diantaranya mulai putih. Beberapa bagian kulitku mulai keriput. Waktu ke dokter gigi, ternyata dikatakan bahwa pertemuan deretan gigi atas dan bawah semakin menjauh, maka bentuk tengkorakku kalau tanpa daging seperti cakil tokoh pewayangan, deretan gigi depan atas maju ke depan.
Selagi di depan kaca saya memiringkan badanku, dan dari samping saya memandang tubuhku. Dadaku kempis rata seperti ban dengan aspek rasio kecil tetapi perut agak membesar seperti ban dengan aspek rasio besar dan dari paha kebawa, kakiku tampaknya kecil, bentukku tidak harmonis lagi. Mengingat berat badanku hanya 63 kg sejak tahun 1970an.
Pagi tadi ketika jalan pagi, persendianku rasanya tidak nyaman, dan itu terjadi setiap hari. Bila saya tidur siang atau setiap bangun tulan tulang rasanya tidak enak, cenderung ngilu. Tetapi saya bersyukur tetap dikaruniai semangat untuk bergerak, baik fisik maupun otak, seperti tulisan dalam karangan bunga yang saya terima dari teman teman di kantor.
Dalam usiaku hari ini 60 tahun, tidak ada penyakit yang berarti. Selain tekanan darah tinggi yang sekarang menjadi normal karena setiap hari menelan 5 mg Norvas dan boyok yang tidak bersahabat. Dengan bergerak setiap pagi selama 30 menit, setiap hari saya memasuki kehidupan dengan ceriah dan bersemangat. Setiap 6 bulan saya memeriksakan diri ke laborat ternyata lemak darah, ginjal (Kratinim), SGPT, SGOT, trait mail, saya beruntung karena semuanya normal. Bahkan dokter mengatakan tidak ada penyumbatan yang berarti di jantungku.
Kalau ada yang bertanya apa yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan maka ada tiga hal yang saya lakukan. Pertama saya makan makanan yang sehat, banyak makan queker oat meil, makan tanpa perasan dan mengutamakan rasio serta jarang makan di restoran. Kedua pola hidup sederhana, sumeleh dan berpikir positif saja, tidak suka berdebat serta bertengkar. Ketiga secara teratur bergerak, berjalan setiap ada kesempatan. Tentang otakku, saya melakukan aktifitas menulis. Membalas email dan posting artikel di blog saya. Saya pikir dengan melakukan semua ini saya dapat menikmati hidup ini dan bisa berguna untuk orang lain.
Saya bertemu dengan seorang tua di Semarang. Dia datang ke Nasmoco untuk servis Camry nya. Lelaki tua 83 tahun ini turun dari mobil yang dia kemudikan, berjalan perlahan sepertinya gemetaran. Ketika saya tanya apa resepnya sehingga ia masih sehat dan bisa mengemudikan mobil sendiri? Ia menjawab, makan makanan yang sehat, selalu bergerak dan focus (konsentrasi). Dengan cara itu beliau setiap minggu lakukan perjalanan Semarang Yogya sambil mengemudikan mobil dan sendirian. Terima kasih teman teman atas doa dan ucapan selamat ulang tahunku.
|
|  | Kitab Jacobus. 5:13 Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi! 5:14 Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. 5:15 Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. 5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Masmur: 103:1 Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! 103:2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! 103:3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, 103:4 Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, 103:5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. 103:6 TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas. 103:7 Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel. 103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
|
Malam ini cucu kami Christopher melucu, dengan bahasanya sendiri dia melakukan pembicaraan lewat "HP" menggunakan meter tukang bangunan. Tidak tahu apa isi pembicaraan karena kami belum tau bahasanya. Mungkin sedang transaksi motor, seperti bapaknya setiap hari melakukan. Christo HP.3gp (1.6 MB)
|  | Pagi tanggal 7 Agustus 2008, saya dan isteri berangkat ke Solo, menemui seorang teman, seorang sahabat, tamatan ATMI angkatan VI yang kemarin jam 15:00 telah meninggal dunia kembali ke rumah Bapa. Ada perasaan kehilangan itu jelas, karena seorang Supriyono Raharjo yang selalu senyum ketika menyapa meninggalkan kenangan ketika bertemu saya beberapa waktu lalu. Sekitar 10 imam ada ketika acara perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin Romo Suryo MSF. Ada bruder ada juga suster, teman, rekan kerja, kerabat dana tetangga hadir sebagai ungkapan perpisahan dari seorang yang dimasa hidupnya membagi kebagaikan kepada orang sekitarnya. Romo Sadwiko SJ (maaf kalau salah) adalah adik dari almarhum, ketika memberikan homini menyebutkan 3 hal yang di tinggalkan oleh almarhum. Pertama ia tekun dalam iman Katoliknya, bahwa almarhum adalah orang yang aktif di lingkungan sampai paroki bahkan keuskupan dapat dilihat dari banyaknya umat yang mengikuti perayaan Ekaristi. Umat yang duduk menyerupai salib di perempatan itu berjumlah lebih dari 400 orang, kusuk dalam doa dan ketika penerimaan Sakramen Maha Kudus, tubuh Kristus yang berjumlah 400 potong tidak mencukupi. Ini merupakan misteri iman. Kedua, sikap dan keteladanan dapat dilihat demikian banyak mahasiswa ATMI, teman pengajar maupun karyawan yang hadir sejak jam 11:30 sampai pemberangkatan jenazah sekitar jam 14:10. Sabar sampai selesai, duapuluhan mahasiswa ATMI memanggul gurunya yang mereka kasihi sekarang di dalam peti jenazah. Ia yang meninggalkan keteladana, rendah hati, pribadi yang sederhana, tulus hati, rajin dan disiplin tidak akan terlupakan.. Ketiga, sikap sosial di lingkungan ia berdiam. Banyak bapak dan ibu muslim terus berdatangan, bahkan sabar sampai selesai misa kudus. Aktif di lintas agama maupun suku. Priyono Raharjo membangun relasi iman kemasyatakatan maupun pendidikan. Romo Ismantoro SJ, adalah ipar dari almarhum dan kakak dari Mgr Pujasumarta Uskup Bandung. Ketika bertemu isteri alamarhum beliau mengingatkan kepada romo Ismantoro ”mas ini peristiwa iman ya” sambil menangis. Banyak mengenal almarhum ini dan ada dua SMS yang dibacakan oleh romo Ismantoro SJ. Romo Andreas:”Tadi saya di SMS dari seorang rekan di ATMI, tentu saya sangat terkejut karena tidak pernah ada berita , saya mengenal beliau sejak saya di ATMI dan saya tidak pernah mendengar keluhan tentang sakitnya, tampaknya ia sehat sehat saja. Saya akan mendoakan dia dalam perayaan misa hari ini. Semoga beliau mendapatkan kebahagiaan abadi disisi Bapa dan juga bagi isteri dan anak anaknya diberi ketabahan” Teman seseritat mengtatakan:”............seorang bapak yang amat baik bagi banyak orang yang menyenalnya, semoga ia dalam damai di rumah Bapa dan semoga isteri dan anak anaknya di beri kekuaatan...... disana tidak ada kerja keras lagi tetapi yang ada hanya kebahagiaan abadi di rumah Bapa. Selanjutnya ini sebagian foto yang dapat saya abadikan.
|
|  | Sharing di Kapel Shekinah Semarang.
Rencanaku bukan rencana Mu, keinginanku bukan keinginan Mu. Sebuah cerita perjalanan hidup dari seorang alumni ATMI-SOLO. Pejalanan hidup seseorang selama 55th dan hidup berkeluarga selama 29th, dikaruniai dua anak laki laki,yang dijalani bagaikan air yang mengalir dengan makna penuh keduniawian.menjalankan bisnis konstruksi baja yang dirintis berdua sebagai pasangan suami istri.dimulai dengan bengkel las pagar terlali besi,sekarang menjadi pengusaha sukses dibidang konstruksi baja,dengan harapan kedua anaknya dapat meneruskan dan mengembangkan bisnisnya, yang setahun bisa menghabiskan baja profil seberat 10.000 ton.
Pasangan yang sukses mencari harta dunia ini, sore itu mengikuti perayaan ekaristi di gereja st Jakobus Kelapa Gading. Pemilik pabrik konstruksi baja yang berlokasi di area 4 hektar hanya memiliki 2 orang anak lelaki yang diharapkan bisa melanjutkan kerajaan bisnisnya di kemudian hari. Namun, apa yang Tuhan bisikan ke mereka sehingga iklas melepas kedua buah hatinya untuk menjadi palayan di kebun anggur Tuhan. Kekayaan yang dikumpulkan berdua sebagai suami isteri, lewat tetesan keringat sejak tahun 1976, dimulai sebagai tukang las pagar bermodalkan sebuah mesin las sederhana dan tinggal di rumah kontrakan, sekarang menjadi seorang pengusaha sukses merupa ceritera sukses anak anak Tuhan Kisah panggilan Erwin akhirnya di ceriterakan Erwin kepada kedua orang tua sebagai berikut. Suatu malam Erwin tertidur di sofa, dan TV dalam posisi hidup. Ketika terbangun tengah malam ia melihat ada film hitam putih yag menceriterakan penampakan Bunda Maria kepada Santa Bernadetha. Selesai menontong entah perasaan apa yang mempengaruhi jiwanya, ia menangis dan bingung. Karena sangat terkesan dengan film itu, iapun mencari CD dan memberikan kepada Adrian kakaknya. Setelah menonton, Adrian tidak memberikan sesuatu komentar, karena demikian sifatnya Adrian lebih diam dan lebih menikmati membaca buku buku .
Sejak peristiwa itu Erwin mengikuti perayaan Ekaristi setiap pagi untuk menerima Sakramen Maha Kudus, pada hal sebelumnya tidak pernah seperti itu. Hari demi hari ia merasa semakin terpanggil, dan mulai mencari ordo mana yang cocok. Akhirnya Edwin memilih ordo Domincan, yang menurut hematnya lebih ringan kontemplasinya, masih bisa keluar biara untuk kotbah atau tugas pelayanan lainnya.
Setahun kemudian menyusul sang kakak Adrian menyatakan diri terpanggil menjadi imam. Sandjojo mengatakan untuk peristiwa penggilan kedua ini ia tidak kaget lagi, karena sejauh ini ia mengenal anaknya pendiam, sehingga ia mengatakan ingin menjadi pastor, diiakan Sandjojo. Adrian akhirnya memilih ordo yang lebih berat, St John yang hidup kontemplasinya lebih berat.
Ketika mengikuti perayaan ekaristi di gereja santo Jakobus Kepala Gading saya duduk di samping Sandjojo, mata saya menangkap tangan Ester selalu menyentuh, menggenggam dan kadang memukul mukul ke paha Sandjojo. Apa yang mereka pikirkan hanya Allah dan mereka berdua suami isteri yang mengetahuinya. Dugaan saya seperti yang di tulis dalam Lukas 24:32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" |
|  | Atas jasa seorang umat, Caecilia Nita, Denpasar yang sedang berada di Sidney. Saya kutip tulisannya di http://via-veritas.com/kegiatan-wyd-hari-ke-2/ .Jumper hijau daun dan jacket tebal hijau menjadi ciri khusus kontingen Indonesia selama WYD ini. Nampak diantara mereka para uskup, romo, koordinator acara dan panitia WYD Indo di Sydney. Yang bikin saya terkesan karena kehadiran beberapa uskup yang ikut melebur bersama umat tanpa jubah kebesaran mereka. Biasanya untuk berjumpa dan ngobrol dengan uskup cukup sulit karena waktu beliau yang sibuk dan juga kayanya ada "jarak" dengan beliau. Tapi hari ini saya ngeliat nampak banyak anak muda yang bergaul akrab dengan monsinyur, wawancara (bikin berita 'kali?), foto2 akrab dan ikut ngantri dan makan bareng dengan para biarawan ini... iya lah, kapan lagi punya waktu bisa dekat dengan romo, suster dan uskup kalo gak manfaatin moment kaya sekarang ini. Koran daily telegraph pagi ini memuat photo Paus yang lain daripada yang lain, berikut ini gambar yang saya download dari situs mereka; Tak jamin pasti kalian gak pernah liat patung Yesus kaya gini di Indonesia. Buat saya sendiri ini hal yang baru dan nyentrik (meski ada sebagian temen bule bernada negatif liat wajah Yesus digambar horor gitu...) tapi kembali ke pendapat pribadi masing2, pastinya ini cuma "art"...ni salah satu gaya pilgrimage temen kita, Hilarius dari Papua. Menurut info dari beberapa temen pilgrimage, untuk bisa mengikuti WYD ke Sydney, mereka harus bermodal USD 1000-1200 (Rp 10 juta-an), wow... saya pikir ini bukan duit sedikit untuk ekonomi Indonesia jaman sekarang tapi emang kudu diniati bener2 peziarahan kali ini.
Modal segitu udah komplit diurus oleh panitia semua, mulai visa, tiket pesawat p.p, seragam, accessories, dan biaya member WYD, pokoknya komplit diluar biaya paspor dan uang saku...
Dan masing-masing pilgrimage ini akan mendapatkan backpack orange komplit dengan buku panduan, ID, syal WYD, kertas silver untuk alas duduk, etc. Nah, ID-nya pilgrimage ini namanya Paspor Pilgrimage yang isinya antara lain: identitas mereka, kupon acara per hari, ticket transportasi weekly (free transport selama seminggu untuk kereta, bis, ferry), kupon gratis makan siang dan makan malam. Jumper hijau daun dan jacket tebal hijau menjadi ciri khusus kontingen Indonesia selama WYD ini. Nampak diantara mereka para uskup, romo, koordinator acara dan panitia WYD Indo di Sydney. Yang bikin saya terkesan karena kehadiran beberapa uskup yang ikut melebur bersama umat tanpa jubah kebesaran mereka. Biasanya untuk berjumpa dan ngobrol dengan uskup cukup sulit karena waktu beliau yang sibuk dan juga kayanya ada "jarak" dengan beliau. sayang nya udaranya terlalu dingin, jadi mohon maaf jika tidak dapat menampilkan acara setelah misa berlangsung; opening concert bersama guy sebastian, damien leith dkk. barangkali ada rekan yang mau menyumbang tulisan dan photo please kirim kami nanti akan segera kita upload. Begitu dulu, thanks Terima kasih Katholik Online. |
|  | Tiga minggu lalu kelompok Persaudaraan Bunda Teresa mengunjungi, ibu Veronila Kotijah. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil, diatas bukit di Selatan Katedral Semarang. Untuk mencapainya kami lewati tempat sampah, jalan sempit dan rumah penduduk yang saling berhimpitan. Kemiskinan kental terlihat dimana mana. Ibu Kotijah 5 anak ini sedang terbaring menahan penderitaan, perutnya membesar karena levernya bengkak. Ia medapat kartu orang miskin, pernah ingap di rumah sakit namun ia tidak betah dan minta pulang saya. Dari rumahnya yang sedahana, ia dipindahkan ke rumah anaknya. Penderitaan dan kemiskinan tidak pernah jauh dari hidupnya, ketika anaknya paling kecil lahir suaminya meninggal dunia. Ia berjuang sendirian untuk membesarkan semua anak anaknya. Sampai suatu ketika sebagai pekerja penyapu jalan ia di tabrak lari oleh orang berduit dan bermobil mewah. Berbulan bulan hidup dalam belas kasihan orang lain. Beliau sempat menerima sakramen perminyakan dari romo Sugoyono pr, banyak yang datang melayat ke tempat sempit ini. Jenasahpun amat sulit untuk diangkat ke kuburan, tetapi solidaritas tinggi tetangga dan yang bersimpatik mengantar beliau ke tempat peristirahatan yang terakhir. Selamat jalan ibu Veronika Kotijah. Semarang 16 Juli 2008. |
Malam pisah sambut vikjen baru dan lama Keuskupan Agung Semarang terjadi banyak kegirangan karena banyaknya kesan kesan kepada Mgr Pujasumarta. Namun di balik itu tersimpang kesedihan di dalam hati setiap orang yang hadir malam tadi. Mulai dari Mgr Suharyo yang menyebut Mgr Pujasumarta sebagai mas Puja, karena banyaknya sumbangan yang diberikan kepada keuskupan Agung Semarang khususnya selama menjadi Vikjen dan lebih dari 30 tahun sebagai iman diosesan. Mgr Puja adalah orang yang rendah dan tulus hati serta tidak pernah marah. Kalau ada yang marah kepada Mgr Puja berarti yang marah kurang beres, ungkap Mgr Suharyo. Mgr Puja sendiri mengakui kehadirannya selama sepuluh tahun menjadi masa pembelajaran berdampingan dengan Bapak Uskup. Para eyang dan engkong yang tergabung dalam perkumpulan pendoa Hironemus tidak bisa menyembunyikan kesedihannya karena setiap minggu ada doa bersama dan pendalaman kitab suci yang merupakan satu sumbangan Mgr Puja untuk pendewasaan umat, rendah hati, pandai dan banyaknya ide membuat perkumpulan ini menjadi kompak. Lebih dari 12 tahun kiprah kumpulan garam, para muda mudi berkumpul untuk mendampingi anak anak yang tersingkir, mengajak mereka bernyanyi dan menari, salah satunya seperti tarian kupu kupu itu, yang malam itu diwakilkan pada anak anak karyawan..... Kesatuan antara uskup dengan vikjennya di sampaikan dengan pas oleh karyawan keuskupan. Mereka sering melihat Mgr Puja memangkas rambutnya Mgr Suharya dan di lain waktu mereka menyaksikan Mgr Suharya demikian kawatirnya ketika kening Mgr Puja terbentur pintu Kijang. Dengan cepat Mgr Suharya membersihkan darah dan menempelkan sendiri tensoplas pada kening Mgr Puja, kejadian itu mengharukan bagi kebanyakan karyawan Keuskupan Agung Semarang. Persahabatan memang sudah mulai ketika beliau berdua di SMP, Mgr Suharyo satu kelas diatasnya, dan malam tadi kesetiaan itu di lanjutkan dengan cara mengantar Mgr Pujasumarta menggunakan bus ke Bandung.
Penghormatannya kepada Sakramen Maha Kudus, adorasi sempurna diungkapkan oleh teman teman dari keuskupan. ”Mgr Puja sangat berdevosi kepada Sakramen Maha Kudus, terutama dilakukan di Kapel Gua Kerep Ambarawa” Sungguh kupu kupu emas itu sekarang akan terbang menuju Tanah Sunda. Ia akan mengisahkan perjalanan hidupnya bagi umat di keuskupan Bandung ”Duc in altum” bertolaklah ke tempat yang dalam.........kayuhlah perahumu ke tengah samudra..........tebarkan jalamu dan jaringlah ikan sebanyak mungkin. Selamat berkarya Mgr Puja, doa kami menyertai Mgr.....demikian narasi singkat karyawan keuskupan.
|  | Umat Katolik Semarang malam ini diwakili oleh kelompok doa Hironimus, pendalaman kitab suci, kelompok Garam yang mendampingi anak anak jalanan dan, Karyawan menyempatkan membuat perpisahan dengan Mgr Pujasumarta. Ada kesedihan dibalik keserian foto foto ini, tetapi MP tetap mesti belajar ke laut lebih dalam, duc in altum.... selamat jalan MP. Beliau akan diantar oleh Mgr Suharyo dan teman teman dalam satu bus malam ini berngkat jam 10. Silahkan umat Bandung menyambut Gembalamu...Semarang 9 Juli 2008 |
Atas permintaan Gloriamaries (San, Jerman), Stephanus Gabrial Frans (Singapura), Mbah Yustinus (tanah Parahyangan), saya ceriterakan ringkas seringkasnya ”rekoleksi” Jumat Sabtu kemarin. Selama dua hari saya mengajak teman teman “rekoleksi”. Kata rekoleksi lebih berkonotasi Kristen itu saya kemas menjadi pelatihan 7Habits atau paradigm shift untuk semua lapisan agama. Tentunya mayoritas peserta saudara kita muslim dan pasti saya tidak singgung sama sekali tentang Injil. Nah sistim pelatihan 7 habitnya Stephen R Covey saya pakai, karena inti dari pelatihan itu adalah untuk menyegarkan, mengingatkan kembali penting unsur karakter dalam hidup ini. Stephan R Covey mengatakan kita baik dan bisa sukses itu karena dari dalam diri kita memang baik, karakter kita baik. Karena karakter itu ada di dalam sehingga orang tidak tahu sedangkan kepribadian itu tampak dan mudah diketahui orang. Jadi ia lebih menekankan tentang tentang karakter daripada kepribadian. Akhir dari palatihan ada sharing seperti retret itu, bongkar luka batin baru diujungnya apa selanjutnya yang mau dibuat dalam hidup ini. Hampir semua peserta menangis karena masa lalunya, entah karena mengalami kehidupan yang pahit karena perceraian bapak dan ibu. Ia yang sakit sakit dan dibuang di tempat sampah. Kemiskinan yang menyakitkan…….kehilangan orang tua ketika G30S, belum sempat membahagiakan orang tua sudah terlanjur meninggal dunia, dan kisah kisah yang sungguh menyentuh hati. Selama dua hari ada proses ke arah itu. Mulai dari memahami proses dan makna dari proses itu sendiri. Sukses dan pecundang. Manusia mengalami hukum alam. Paradigm shift. affectivities dan Emotional Bank Account. The Seventh Habits. Be proactive, begin with the end in mind, put first thing first, thing win win, seek to be understand than to be understood, synergize dan sharpen the saw. Habit ke delapan adalah habit kemuliaan. Karakter adalah rendah rendah, kesederhanaan, tulus hati, kerendahan hati, hidup jujur, keberanian menyatakan kebenaran, integritas diri, rajin dan hidup hemat. Thomas Alfa Edison dikeluarkan dari sekolah karena bodoh. Kemudian ibunya mengatakan saya akan mendidik anak saya dengan cara saya. Di kemudian hari kita tahu Thomas menemukan bolam lampu setelah melewati nyaris 900 kali percoabaan. Apakah kita mampu serajin dan seulet dia? Apa yang diajarkan ibunya? Keuletan, pantang menyerah, berani...... Univ Harvard dalam penelitiannya mengatakan: Ketika sekolah 90% waktu dan uang kita dihabiskan untuk skill dan knowledge, hanya 10 % tentang attitude. Padahal ketika bekerja 85 % kesuksesan kita didukung oleh attitude dan hanya 15 % oleh skill dan knowledge. Apa selanjutnya rencana kehidupan peserta dikatakan sebagai penutup. Saya percaya, bila orang menyatakan sesuatu dengan pikiran, perkataan, hati, perasaan dan seluruh kekuatan jiwanya maka ia bisa berubah dan doanya terkabul.
 | Guestbook | |
 |
Salam Kenal Berkah dalem
More, as promised, on Senator Joe Biden (why should Sarah Palin get all the coverage?). Remember, you read it here first: on September 11 this blog reported a mounting backlash from Catholic bishops against Biden, Barack Obama's "Catholic" pro-abortion running mate. At that time I estimated eight bishops had come out to denounce Biden; the total is now 55. Beyond that, Biden is being trashed across every state of the Union by Catholic newspapers, TV and radio stations, and blogs. It is a tsunami of rejection.
The story has now hit the secular media. Last Saturday Time magazine asked: "Does Biden Have a Catholic Problem?" By Wednesday the issue had moved onto the front page of the New York Times. Joe the Jinx has blown it, big time. Biden has only himself to blame: he started this war, with his notoriously undisciplined mouth. He knew the dangers. Last August, Archbishop Raymond Burke, former Archbishop of St Louis and now Prefect of the Apostolic Segnatura in Rome, said communion should be denied to pro-abortion politicians "until they have reformed their lives".
Archbishop Chaput of Denver had already announced Biden should not receive communion because of his pro-abortion views. Defiantly, Biden took communion in his home parish in Delaware in late August. On September 2 the Bishop of Scranton, Pennsylvania (a crucial swing state) banned him from communion in his diocese. That is effective excommunication. Then came the crucial provocation. On NBC's Meet the Press programme on September 7 Biden grossly misrepresented the Catholic Church's teaching on abortion and audaciously cited St Thomas Aquinas in his own cause.
That did it. House Speaker Nancy Pelosi had already done the same thing on the same programme, in her instance citing St Augustine. Even the torpid US bishops could not have false doctrine glibly broadcast by public figures, misleading their flock. So the counterattack described here last week began, culminating in a statement from the US Bishops' Conference. The bishops of Kansas City have also issued a pastoral letter on the subject. It is open season on Biden.
There are 47 million Catholic voters in the United States. One quarter of all registered voters are Catholics. At every presidential election in the past 30 years the Catholic vote has gone to the winning candidate, except for Al Gore in 2000. This year 41 per cent of Catholics are independents - up from 30 per cent in 2004. Psephologists claim practising Catholics were the decisive factor in the crucial swing states in 2004: in Ohio 65 per cent of Catholics voted for Bush, in Florida 66 per cent. They were drifting away in disillusionment from the Republicans and split 50-50, until Joe Biden worked his magic. This is electoral suicide by the Democrats.
|
 |
Mau nawarin nech untuk yg hobby ikan hias.. Aq jual ikan guppy kualitas import tp harga terjangkau.. Cocok untuk show n kompetisi.. Nikmati keindahan ikan guppy ini, dg corak warna yang cantik.. Kunjungi HTTP://Yoshiee.Multiply.comatau tlp : 031-60468618 bisa kirim juga.. thx. JBU |
 |
Selamat pagi pak Martin,.
Apa kabar? Semoga baik and sehat selalu.
Salam untuk keluarga yach pak.
JBU always:) |
 |
Pak Martin, apa kabar? Semoga makin bahagia! Salam dan doaku untuk Ibu, anak-anak dan cucu-cucu, serta teman-teman Persaudaraan Bunda Teresa, 'n Berkah Dalem, |
 |
 Berkah Dalem. Salam Kenal |
 |
salam Kenal Pak Berkah dalem  |
 |
Salam  Kenal Pak.Berkah Dalem.GBU |
 |
hmm.. bagiku sendiri itu bukan seni lagi dan lari dari rasa seni dan arti seni itu sendiri.
tapi Pak Marthin... Salib sudah menjadi pikulan dan tanda kemenangan kita.
salamku
|
 |
Selamat hari Salib Suci ya pak Tar. semoga salib suci Tuhan Yesus senantiasa melimpahkan rahmat kasih penebusan dan kekuatan agar selalu setia dan kuat memikul salib2 kecil kehidupan kita.GBU |
 |
Selamat Pagi,Pak Marthin. Selamat berhari minggu.
Salam buat Ibu. |
 |
Selamat berakhir pekan Om Martin... Salam untuk keluarga -- terutama untuk cucu2 yang lucu2 GBU and UrFam |
 |
Selamat Sore pak Martin,..
Thank you for everything that you have given us. Your prayer and supports are just amazing!
JBU and your family always:)
Love: Vonny and John Ablett |
 |
Hello pak Martin, terimakasih mampirnya. Unutk foto, begini pak cara memunculkannya, klik Customize My Site di bawah headshot (avatar) bapak, lalu lihat ke atas ada menu unhide, disana ada bacaan Photo, bapak klik saja maka akan muncul kembali. Salam damai. |
 |
Damai bagimu, Sahabat-sahabat semua, HöPë edisi September 2008 versi online (internet) sudah mulai bisa diakses hari ini, Rabu, 3 September 2008, pukul 10.00 WITA di alamat : http://hope-komkepbanjarmasin.blogspot.comSelamat membaca, selamat mengisi Bulan Kitab Suci Nasional 2008 dan terimakasih atas dukungannya selama ini. TUHAN sertamu... salam&doa dhionys_agus (agus_bli) email : dhionys131@yahoo.com litbang_komkepbjm@yahoo.com |
 |
Selamat malam pak martin.. selamat beristirahat
|
 |
terima kasih pak martin..buat kunjungan nya ke sekolah minggu kami. Tuhan memberkati senantiasa |
|
|